WELCOME!


I made this widget at MyFlashFetish.com.


Jumat, 26 Maret 2010

Catatan Buat Para Pengemban Dakwah Tentang Percaya Diri

ImageMasalah yang satu ini emang nggak ada habis-habisnya, karena hampir dialami oleh kebanyakan orang atau mungkin semua orang! PD melibatkan banyak hal dari hidup kita, mulai dari belajar sampai memimpin. Oleh karena itu, bisa dibilang kalo orang yang kurang PD rata-rata akan kehilangan 70% dari makna hidupnya. PD juga bisa mempunyai rumus turunan (derivat) (kayak matematik aja ya hehehe) seperti rasa pesimisme, utopis, dan malu tidak pada tempatnya, serta masih banyak lagi yang akhirnya akan merugikan orang yang bersangkutan itu sendiri, nah karena itulah mengapa masalah ini cukup urgent untuk dibahas karena, mau tak mau, suka tak suka kita akan banyak berinteraksi dengan masyarakat.

Penyebab utama seorang anak manusia menjadi tidak PD adalah karena merasa kemampuan yang dimilikinya ‘relatif’ kurang dibandingkan sekelilingnya atau saingannya, atau merasa tak pantas melakukan sesuatu, merasa malu, takut bila semuanya tidak berjalan sebagaimana mestinya dll, dan banyak pertanyaan seperti “kalo salah ntar gimana yah?”,“bisa nggak ya?”,“apa aku pantas?” Atau pernyataan seperti “aku mau melakukanya, tapi ini bukan saat yang tepat…” atau “ah, masih ada kesempatan lain” dan lain-lainya yang pada intinya seorang yang tidak PD akan selalu merasa dirinya ‘tidak selevel, atau tidak akan bisa seperti itu’. Lalu, bagaimana caranya mengatasi krisis tersebut secara positif?

Saya sering mengibaratkan diri saya sendiri dengan seorang pemburu. Seorang pemburu akan mempersiapkan segala macam yang diperlukannya untuk berburu sebelum ia pergi, dengan kata lain, agar kita menjadi Percaya diri dalam mengerjakan sesuatu, maka persiapan kita pun harus matang terlebih dahulu. Persiapan ini menyangkut segala bentuk segi, misalnya seorang pemburu akan menentukan target terlebih dahulu, binatang apa yang ingin diburunya, lalu mencari tahu tentang hewan buruannya itu, mulai dari kelebihannya, kekurangannya, tempat hidupnya, kebiasaannya, makanannya, kelemahannya, kekuatannya, kecepatan larinya, dan segala macam informasi yang lainnya. Selain mencari tahu tentang buruan, ia juga akan senantiasa menyiapkan senjatanya, memilih peluru yang digunakan, berapa jauh jangkauannya, seberapa kuat tolakannya, seberapa kuat bunyinya dan hal-hal lain yang juga bisa berpengaruh terhadap pemburuanya itu, tak lupa ia juga melatih dirinya sendiri agar siap memburu buruannya, tahu apa kelebihannya, kekurangannya, ketelitian, kecerobohan, serta hal-hal yang lainnya. Selain itu ia sendiri haruslah yakin bahwa yang dilakukannya adalah hal yang benar dan tidak menimbulkan kerugian, baik pada dirinya dan bagi orang lain.

Melalui pedoman si pemburu tadi, maka ada beberapa tips yang bisa saya bagikan kepada oknum-oknum yang sedang tidak percaya diri.

Sebagai seorang muslim, saya menganalisis bahwa salah satu penghambat dakwah islam adalah karena ketidak PD an hamlud da’wah, karena itu tulisan saya sekali ini lebih menitikberatkan bagaimana tips agar PD dalam berdakwah. Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan ke hal-hal yang lainnya

1. Agar PD dalam berda’wah pertama kali kita harus paham apakah sesuatu yang kita lakukan/dakwahkan adalah sesuatu yang benar, tidak mungkin anda bisa meyakinkan seseorang atau menyukseskan suatu pekerjaan bila anda sendiri tidak yakin atau tidak tahu apakah hal itu benar ataukah salah. Oleh karena itu keyakinan atas sesuatu itu menjadi hal yang sangat urgent, yakinlah bila kita yakin pada sesuatu kita akan lebih PD.

2. Sebagai seorang muslim, standar halal haram kita adalah hukum syara’, dalam berbuat apapun, motivasi kita yang pertama haruslah diniatkan ikhlas karena memenuhi seruan dari Allah SWT, bukan karena hal-hal lain. Misalnya, motivasi utama kita tidak berzina bukan karena malu, tapi karena ada larangan dari Allah SWT, malu harusnya menjadi motivasi ke sekian. Motivasi utama kita belajar harusnya bukanlah untuk bekerja atau memenuhi tuntutan ayah ibu, tetapi haruslah karena diseru Allah untuk melakukannya, jadi kita harus menjadikan ridho Allah SWT sebagai tujuan segala aktivitas kita. Selain niat, caranya pun harus benar, karena syarat-syarat amal yang baik (ihsanul amal) adalah niat dan cara yang benar.

3. Bertolak belakang dari keyakinan yang pasti 100% (tashdiqul jazm) kita terhadap Islam, dan yakinnya kita bahwa Islam pasti benar dan kebenaran hanyalah milik islam semata, maka seharusnya seorang muslim tidak kurang PD dalam menjalankan aktivitas-aktivitas yang memang diserukan, karena kita melakukanya bukan untuk dilihat, dipuji ataupun untuk apa-apa dan siapa-siapa, tapi untuk Allah semata! Dan yakinlah, segala macam usaha kita, asal niat dan caranya benar, berhasil atau tidak aktivitas itu, sukses atau gagalnya akan mendapatkan nilai di mata Allah SWT. Lalu jika kita yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah benar, lantas apalagi yang perlu ditakutkan?

4. Takut dan malu adalah perasaan fitrah dari diri manusia, setiap orang memiliki rasa takut karena ia termasuk potensi manusia, yaitu naluri-naluri (al-ghara’iz) sehingga menghilangkan rasa takut dari diri manusia adalah hal yang tidak mungkin, yang mungkin adalah menyalurkannya dan membuatnya tidak terlihat atau meminimalisir rasa takut itu dengan meyakinkan diri, terkadang kita malu untuk ‘tampil’ karena merasa kita bukan seorang pemberani (penakut) atau seorang pemalu. Hal pertama yang ingin saya tegaskan disini adalah, malu dan takut itu harusnya perasaan kita ketika melanggar hukum-hukum syara, malu dan takut itu harusnya muncul ketika kita sedang mengerjakan kemaksiatan, dengan kata lain, dalam mengerjakan perintah atau seruan dari syara kita harusnya tidak boleh merasa malu atapun takut, karena kita melaksanakan perintah dari pencipta kita, pencipta langit dan bumi, pencipta segala yang ada di alam semesta dan segala keteraturannya! Jadi tidak ada cerita bila kita malu ataupun takut menjalankan perintah atau seruan-Nya, termasuk dalam hal berdakwah dan lain-lainya.

5. Manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat terbatas, bahkan segala sesuatu yang ada di dunia ini pun memiliki batasannya, contohnya, manusia suatu saat pasti akan mati, dia tak kuasa untuk memajukan atau memundurkan ajal itu barang sesaat pun, manusia juga tidak tahu kapan ajalnya akan menjemput, apakah ketika sholat, apakah ketika belajar, ataupun ketika sedang melakukan maksiat. Yang ingin saya tegaskan disini adalah, wajar bila manusia itu memiliki kelemahan, itulah hakikat seorang manusia! Dan menurut saya, lebih baik kita menonjolkan kelebihan kita, dan sementara itu memperbaiki kekurangan kita. Hal yang sama berlaku pada orang-orang disekitar kita, saingan kita, teman dan lainya. Mereka juga pasti tidak lepas dari kelemahan dan keterbatasan, sehingga tidak perlu bagi kita untuk merasa kitalah yang paling tidak sempurna, sedangkan mereka jauh lebih baik daripada kita. Jauhkanlah pertanyaan-pernyataan seperti “Kayaknya dia lebih baik daripada saya, saya tidak punya harapan…” itu adalah logika yang salah. Harusnya “Kalau dia juga bisa, kenapa saya tidak?!”

6. Cara mengatasi rasa takut dam malu, selain dengan meyakini apa yang dilakukan, juga bisa dengan cara membiasakan diri dengan ketakutan dan rasa malu itu, jadi seorang yang ingin berhasil dalam sesuatu yang kurang PD nya dalam hal itu tidaklah boleh mundur, karena jika dia tidak pernah mencoba, niscaya tidak akan ada perubahan di dalam dirinya, Allah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa yang ada dalam suatu kaum sampai mereka merubahnya sendiri” sehingga, walaupun takut, walaupun gemetar, walaupun hasilnya kurang baik, tetap hal-hal tersebut harus dilaksanakan, Insya Allah setelah beberapa kali melakukannya semua akan terlihat lebih baik, lebih enak dan lebih tenang. Orang-orang yang paling sukses atau paling percaya diri sekalipun pasti pada awalnya merasa tidak PD, tetapi bedanya dengan orang yang gagal adalah, ketika dia takut maka ia akan mengalahkan ketakutanya itu, bukan tunduk kepadanya.

7. Melihat dari awal perjalanan hidup kita, kita sadar bahwa pada proses penciptaan kita telah terjadi suatu hal yang luar biasa, dalam banyak firmannya Allah SWT telah memberitakan bahwa kita berasal dari mani yang dipancarkan, Ketika seorang suami melakukan (maaf) hubungan badan dengan istrinya maka rata-rata sperma yang keluar pada waktu itu adalah sekitar 500.000.000 (lima ratus juta!) dan sperma-sperma ini bersaing satu sama lain untuk mendapatkan satu sel telur (ovum), jadi dulunya sperma yang akan menjadi kita itu bersaing dengan 499.999.999 sperma lain, atau saingan kita dahulu kala mencapai angka tersebut, sekarang berapakah saingan kita? 10, 40, 100, 1000? Kenapa kita tidak PD bersaing dengan jumlah yang sedikit ini, padahal dulunya kita adalah pemenang dari antara 500.000.000 peserta hehehehehe… jadi nggak ada alasan bagi kita untuk tidak PD dalam bersaing yang sehat! Selain itu, kalian-kalian semua adalah ciptaan-ciptaan sempuna yang khusus, unik dan tiada duanya, yang dihasilkan dari sperma terbaik! Bisakah anda bayangkan bila bukan sperma yang terkuat yang membuahi sel telur itu, apakah kita akan seperti ini? saya rasa tidak, karena dalam perjalanannya menuju sel telur adalah proses seleksi sperma dan yang terbaiklah yang akan mampu, sehingga kita semua adalah benih-benih terbaik!

8. Hal yang terakhir adalah, kita, sebagai manusia yang selalu merasa rendah adalah hal yang wajar, tetapi akan sangat bagus bila perasaan itu dipadukan dengan akal dan ditempatkan di tempat yang seharusnya, untuk mencapai ketenangan hidup, kepuasan hidup dan kebahagiaan hidup, kita tidak boleh hanya membandingkan diri dengan orang yang lebih ‘atas’ tetapi haruslah juga kita melihat ke ‘bawah’ betapa masih banyaknya orang yang lebih tidak beruntung daripada kita, tetapi orang yang di ‘atas’ juga bisa dijadikan contoh.

Tulisan ini adalah karangan manusia, belumlah final, jadi perlu pengembangan pemikiran dari pembacanya, semoga tulisan ini dapat membantu perjuangan da’wah kita semata hanya untuk Allah Ta’ala, semoga bermanfaat!

Apa Pandangan Islam Tentang Pluralisme

Pertanyaan:

Assalamualaikum ust. Akhir-akhir ini banyak orang berbincang tentang pluralisme. Apalagi terkait kasus terbaru yaitu Uji materi UU tentang penodaan Agama. Ada diantara salah satu pemohonnnya beralasan tentang perlunya pluralisme sebagai sebuah pandangan hidup dan ini menjadi salah satu alasan untuk dicabutnya UU tersebut. Nah, sebenarnya bagaimana sih Konsep pluralisnme itu sendiri. Kemudian, apa dampaknya bagi kehidupan umat beragama, terutama dalam sudut pandang Islam. Syukron.

Konsep Pluralisme

Konsep pluralisme secara umum diartikan sebagai ga-gasan yang menyatakan bahwa semua agama sama dan tidak ada yang lebih baik antara satu dengan yang lain. Perbedaan agama hanya dianggap sebagai perbedaan persepsi dalam memahami hakekat ketuhanan yang dalam implementasi kebe-ragamaan tersebut ditemukan banyak kesamaan (Thoha:2005).

Gagasan pluralisme merupakan turunan dari konsep liberalisme yang tumbuh di Eropa pada abad pencerahan (abad ke-18). Sebagaimana diketahui pada masa itu masing-masing sekte-sekte dan madzab agama Kristen Eropa pada masa itu sangat eksklusif dan tidak toleran terhadap sekte lainnya sehingga melahirkan konflik-konflik sosial yang tidak jarang berujung pada pertumpahan darah. Pluralisme kemudian dianggap sebagai 'obat' untuk menghilangkan ketegangan tersebut. Pada perkembangannya konsep pluralisme menyebar hingga ke dunia Islam. Menurut para peng-usungnya ide pluralisme dapat meredakan berbagai konflik dan ketegangan yang terjadi di antara kelompok agama di dalam masyarakat.
Dampak Pluralisme

Dengan mencermati hal tersebut dapat dimengerti jika gagasan pluralisme merupakan ide yang berhubungan erat dengan sekulerisme yang meman-dang bahwa agama harus dipisahkan dalam kehidupan publik. Sekulerisme tidak mempersoalkan perbedaan keyakinan seseorang namun dalam kehidupan publik agama harus dikesampingkan. Pluralisme yang meng-anggap semua agama sama dianggap sebagai gagasan yang tepat untuk menghilangkan eksklusifitas agama dalam kehi-dupan publik. Dengan kata lain dalam sebuah tatanan masya-rakat dan negara tidak boleh ada suatu agama yang mendominasi agama lain karena kebenaran semua agama bersifat relatif.

Tidak heran jika tokoh-tokoh pluralisme termasuk di Indonesia paling getol menen-tang pemberlakuan syariat Islam. Pada saat yang sama mereka mendukung eksistensi berbagai aliran-aliran sesat semisal Ah-madiyah dan Jamaah Sala-mullah.

Pluralisme yang menganggap semua agama sama telah memberikan ruang bagi siapapun untuk berpindah agama, tidak beragama atau bahkan mendirikan agama baru sekalipun. Ini karena orang yang menganut pluralisme meng-anggap tidak ada perbedaan yang substansial antara satu agama dengan agama lainnya. Oleh karena itu aktivitas ber-pindah agama (riddah) dianggap sebagai hal yang lumrah dan bukan merupakan tindakan kriminal.


Kebatilan Pluralisme

Sebagai sebuah gagasan, pluralisme haram untuk diadopsi, disebarkan dan dipraktekkan. Hal karena antara lain:

Pertama, ide tersebut lahir dari gagasan sekulerisme yang memisahkan agama dari kehi-dupan. Dari sini saja sebenarnya sudah cukup untuk menyatakan kebatilan ide tersebut, sebab gagasan apapun yang tidak bersumber dari aqidah Islam meski memiliki kesamaan tetap dianggap sebagai sebuah keba-tilan. Gagasan ini juga tidak dapat diterapkan atas umat Islam sebagaimana awalnya ditujukan kepada agama Kristen. Dengan kata lain ia bersifat ekskulisif bagi agama Kristen dan mungkin agama lain namun tidak bagi agama Islam. Hal ini karena Islam telah memiliki sejumlah solusi dalam menyikapi dan menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi baik secara personal, kelompok maupun antar umat beragama.

Kedua, pluralisme meng-anggap hakekat semua agama sama. Kebenaran seluruh agama juga dipandang relatif dan oleh karenanya pemeluk suatu agama tidak boleh mengklaim agama-nya paling benar. Padahal di dalam Islam telah dijelaskan secara qathi'y bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar (QS Ali Imran [3]:163), sementara selainnya adalah agama yang batil dan meyakini kebenarannya adalah kekufuran (QS al-Taubah [9]:30-31). Orang yang keluar dari agama Islam dianggap sebagai pelaku tindak kriminal yang wajib untuk dibu-nuh jika enggan bertaubat. Selain itu Islam juga menegaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat sejumlah ajaran yang bersifat qath'iy yang wajib untuk diyakini kebenarannya secara mutlak. Justru menganggapnya sebagai sesuatu yang relatif maka menjerumuskan sese-orang pada kekafiran seperti merelatifkan kebenaran Alquran dan Sunnah.

Ketiga, pluralisme pada faktanya telah dijadikan sebagai 'alat' untuk menghalangi terwujudnya pelaksanaan syariat Islam secara total dalam sebuah negara. Alasannya sederhana, suatu agama tidak boleh diterap-kan dalam kehidupan publik sebab hal tersebut meniscayakan adanya pemaksaan kepada pihak yang beragama lain. Na-mun pada sisi lain gagasan pluralisme telah menempatkan sistem kapitalisme sebagai 'agama baru' yang wajib ditaati. Yang jelas dirugikan oleh gagasan ini adalah umat Islam. Hal ini karena dari semua agama yang ada, hanya Islam-lah yang merupakan sebuah ideologi yang memiliki peraturan yang lengkap dan wajib diterapkan secara menyeluruh dalam selu-ruh aspek kehidupan termasuk kepada non-Muslim.

Keempat, gagasan ini jelas sangat sesuai dengan berbagai kepentingan negara-negara Barat yang tidak menginginkan umat Islam menerapkan Islam sebagai sebuah ideologi dalam suatu negara. Ini sangat dimengerti mengingat berbagai ben-tuk penjajahan mereka terhadap dunia Islam akan mendapatkan perlawanan yang efektif dari negara Islam. Sebaliknya dengan 'matinya' negara Islam, mereka dapat leluasa melanggengkan dominasi mereka atas umat Islam seperti saat ini.


Bukan Memberangus Perbedaan

Meski menolak pluralisme bukan berarti Islam tidak meng-akui dan membolehkan keber-adaan agama-agama lain. Dalam sejarah penerapan Islam, jamak diketahui bahwa Khilafah Islam meski tidak mengakui kebenaran agama selain Islam namun tetap memberikan penghormatan kepada peme-luknya menjadi warga negaranya. Padahal saat itu konsep pluralisme sama sekali tidak dikenal.

Ini karena Islam telah menjelasakan dengan qath'iy bahwa non Muslim selama mereka membayar jizyah dan tunduk pada aturan negara dalam kehidupan publik maka dapat hidup bebas menjalankan agama mereka baik yang berkenaan dengan masalah ibadah, pakaian, makanan dan minuman serta pernikahan. Konsep ini terbukti mampu mengatasi perbedaan dan konflik yang terjadi dalam bingkai negara Islam.

Bandingkan misalnya di negara-negara Barat yang meng-klaim menjunjung tinggi pluralisme namun masih memperlakukan umat Islam secara diskri-minatif dalam menjalankan ajaran agama mereka meski yang bersifat privat semisal memakai cadar dan memanjangkan jenggot.

Berdasarkan penjelasan di atas maka sudah sepantasnya umat Islam menolak gagasan pluralisme beserta para pengusungnya bukan malah ikut-ikutan latah mendukungnya. Wallahu a'lam bisshawab.

Tanda Ikhlas

Para ulama sepakat bahwa setiap amal haruslah disertai dengan niat yang ikhlas. Lalai dalam menanamkan keikhlasan akan berakibat gagalnya memanen pahala dari amal yang kita lakukan. Saking pentingnya perkara ini, tak heran banyak mujahid yang bersusah payah menjaga keikhlasan niat mereka dalam menegakkan agama Allah. Syaikhul Islam Abdullah bin Mubarak misalnya, pernah mengikuti peperangan dengan menggunakan cadar atau topeng diwajahnya tanpa ada yang mengetahui siapa dia. Dalam peperangan itu beliau melesat keluar dari pasukan kaum muslimin, seraya membunuh para penunggang kuda dari pihak musuh yang sebelumnya menggoncangkan barisan kaum muslimin.

Lantas, apa sebenarnya ikhlas itu? Apa tanda-tandanya? Abu Qasim Al-qusyairi berkata; “ikhlas adalah menjadikan satu-satunya yang patut ditaati dalam niat ialah Allah SWT”. Dalam suatu kesempatan Imam Fudail bin Iyadh berkata; “ikhlas terwujud manakala suatu amal diniatkan secara murni kepada Allah SWT”.

Ikhlas memang memiliki tanda. Diantara tanda-tanda ikhlas adalah tunduk pada kebenaran, dan menerima nasihat sekalipun berasal dari orang yang lebih rendah tingkat ilmunya. Ia akan lapang dada ketika ternyata kebenaran itu ada pada orang lain. Hal ini telah dilakukan oleh Ubaidillah bin Hasan Al-anbariy, salah seorang ulama terkemuka dan qadhi di kota Bashrah. Ubaidillah bin Hasan pernah ditegur oleh muridnya Abdurrahman bin Mahdi lantaran keliru dalam menjawab sebuah pertanyaan. Beliau mengatakan kepada muridnya; “ kalau demikian aku menarik diri dan tunduk. Sungguh menjadi ekor dalam kebenaran bagiku lebih aku sukai daripada menjadi kepala dalam kebatilan.”

Tanda ikhlas yang lain adalah tidak berani memberi fatwa dan memutuskan suatu hukum secara gegabah. Termasuk tidak berani menjalankan suatu perbuatan sebelum mengetahui status hukumnya, dan menerima apapun pandangan Allah SWT atas perkara tersebut. Oleh karena itu para ulama selalu menjaga diri tidak gegabah memberi fatwa, bahkan berangan-angan agar dirinya tidak ditanya. Para ulama besar terdahulu. Tidak pernah merasa malu untuk mengatakan tidak tahu terhadap suatu perkara yang memang tidak diketahuinya.

Suatu hari Asy-syabi pernah ditanya tentang suatu persoalan . Beliau menjawab; “aku tidak tahu”. Ada yang menyela; “apa anda tidak malu menjawab tidak tahu padahal anda adalah ahli fiqh-nya orang-orang Irak.” Beliau menjawab; “ jangankan aku...malaikat saja tidak malu ketika berkata: “maha suci engkau ya Allah, tidaklah kami memiliki ilmu kecuali yang telah engkau ajarkan kepada kami” (Al-baqarah: 32)

Orang yang ikhlas tidak akan menanam dirinya rasa malu untuk mencari kebenaran. Kehidupannya tak lebih dari serangkaian perjalanan untuk mencari kebenaran. Tidak ada yang lebih indah baginya selain sikap pasrah kepada Allah. Syariat Allah (Islam) baginya seperti sebuah telaga bening di tengah gurun sahara, sesuatu yang sangat diharapkan keberadaannya dan dirindukan kesegaran airnya. Semoga kita termasuk orang yang mampu berbuat ikhlas dan selalu menyimpan tanda-tanda ikhlas. Amiin. Wallahua’lam bi showab

Improvisasi Dakwah Secara Kreatif Dan Inovatif

Sahabat Pembangkit Umat,
Seperti biasa agar asa selalu ada bergelora, kita mulai dengan … apa kabar hari ini? Alhamdulillah…Luar Biasa…Allahu Akbar!!! Alhamdulillah, tetap penuh syukur atas nikmat Iman, Islam dan predikat “Sebaik-baik Penciptaan” lengkap dengan seluruh potensi kehidupannya (QS. At Tin : 4). Luar Biasa, selalu penuh doa dan cita agar bisa mewujud diri menjadi Muslim Terbaik (QS. Al Fushilat : 33) dan membangkitkan umat menuju predikat Umat Terbaik (QS. Ali Imran : 110). Allahu Akbar, gelora penuh takbir karena semua ini terjadi atas izin-Nya. Jangan lupa, ketika menjawab lengkapi dengan ekspresi penuh semangat!

Sahabat Pembangkit Umat,
Dalam tulisan sebelumnya, kita telah diinspirasi untuk bisa maksimal mendayagunakan kompetensi yang dimiliki agar laju dakwah optimal sempurna. Nah, sekarang bagaimana mengimprovisasi dakwah secara kreatif dan inovatif agar selain melaju tampilan dakwah juga selalu segar dan dinanti oleh umat.

Tapi…eit… tunggu dulu, sebelum lebih jauh, simak dulu yang satu ini …

Saudaraku, kapan kita pertama kali belajar mengarang? Rata-rata mengalaminya saat di bangku kelas 3 atau 4 SD. Nah, sekarang cobalah untuk melakukannya lagi. Tak perlu lama-lama. Cukup 1 menit. Temanya pun bebas. Siapkan kertas. Siapkan juga pensil atau pulpen. Oke, siap? Ya, mulai...
Apa yang terjadi? Umumnya dari kita akan memulai karangan kita dengan kata-kata “Pada suatu hari...” atau “Pada suatu saat...” atau kata-kata sejenis lainnya. Kata-kata yang sama dengan yang kita gunakan ketika memulai belajar di SD dulu.
Lalu, umur berapa kita saat ini? Mungkin 25 tahun, 30 tahun, atau mungkin 60 tahun. Yang jelas selisih umur kita saat ini dengan umur saat SD dulu, katakanlah, minimal lebih dari 10 tahun. Tentulah ini masa yang tidak sebentar. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa kata-kata yang kita gunakan saat ini sama sekali tidak berubah alias sama persis dengan kata-kata yang dulu? Padahal waktu telah berlalu cukup lama. Minimal terpaut 10 tahun. Kalau begitu, apa gerangan yang terjadi? …

Inilah gambaran sederhana, betapa proses peneladanan kita selama ini –disadari atau tidak - telah berlangsung tanpa memunculkan proses kreatifitas. Tidak ada proses inovasi. Padahal, dengan kreativitas dan inovasi, kita bisa memulai karangan kita dengan kata-kata yang lain, seperti :
o “Hari itu pukul 03.30 ketika semua masih terlelap ...”
o “Braak ! Tanpa ampun Dimas menggebrak meja ...”
o “Pro-kontra tentang RUU Anti Pornografi-Pornoaksi (RUU APP) terus terjadi ...”
o “Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un! Hanya itulah yang layak kita ucapkan menyusul gempa bumi yang mengguncang Yogya dan Jawa Tengah...”

Sahabat Pembangkit Umat,
Tulisan di atas menghantarkan kita pada situasi dan kondisi dakwah kita hari ini yang kurang lebih sama. Padahal kita punya potensi peneladanan uslub atau teknik dakwah secara kreatif, inovatif dan tetap dalam koridor metode dakwah yang fiks alias konstan, tidak berubah. Jadi bagaimana seharusnya? Simak lanjutannya …
Dalam keseharian kita dapati contoh-contoh sukses bisnis, secara parsial maupun keseluruhan bisnisnya, dengan kekhasan kompetensinya. Waduh Lha kok sukses bisnis bukan dakwah, ‘jaka sembung naik ojek’ nih alias ‘gak nyambung jek’. Tenang, tak apa, ikuti saja dulu. Don’t be khawatir.
Sebutlah Lion Air dengan kepeloporan penerbangan low cost – nya yang sukses menggaet 50% penumpang domestik di tahun 2009. Ada Garuda Food yang dikenal sebagai perusahaan inovatif, yang sukses sebagai genuine local negeri ini dengan ikon kacang Garudanya. Juga Yamaha Motor yang makin agresif ingin menjadi market leader yang sukses karena konsisten membangun imej “Semakin Di Depan”. Sido Muncul yang sukses terus berinovasi untuk mempertahankan perilaku konsumen Indonesia agar tetap minum jamu dengan kampanye “Orang Pintar Minum Tolak Angin”. Primagama yang sukses menjadi bimbingan belajar terbesar di nusantara dengan 678 cabang yang sebagian besar di-franchise-kan dengan jurus khas berani menggaransi uang kembali jika tidak lulus UN! Terakhir Dagadu Djokdja yang sukses tumbuh menjadi “pabrik kata-kata” yang berhasil menjual 5.000 kaos sehari dengan harga kaos sekitar 50 ribu.
Sebelumnya, pun sudah ada sukses Sosro menambah khasanah ‘peribahasa bisnis’ dengan iklannya yang terkenal “apapun makanannya, minumnya …” Jauh sebelumnya, telah ada bisnis Sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, satu contoh bisnis sukses sepanjang peradaban manusia yang belum tertandingi hingga kini. Bisnis yang benar-benar sukses menuai ‘berkat’ dan berkah. Sukses bisnis yang mengguncang dunia dengan multikompetensi khas hasil implementasi peradaban Islam yang luar biasa. Dengan begitu banyak harta yang diinfaqkan di jalan Allah, ketika meninggal pada usia 72 tahun, beliau masih meninggalkan asset 2.560.000 Dinar. Subhanallahu (silakan konversikan ke rupiah, dimana 1 dinar = 4,25 gram emas atau sekitar Rp 1.275.000,- jika 1 gram emas bernilai Rp 300.000,-).

Sahabat pembangkit Umat,
Nah di sinilah, konteks peneladanan dimulai. Jangan biarkan success story yang ada di depan mata kita, lewat tanpa permisi. Lewat tanpa kita sempat mengambil hikmahnya untuk memacu perolehan sukses dakwah kita. Jadi, bagaimana caranya? Insya Allah mudah saja. Meminjam istilah rumus 5i dari buku Be The Best, not ‘be asa’ tulisan penulis, kita harus segera melakukan langkah Teladani Success Story. Ada tiga cara untuk melaksanakan langkah ini. Pertama, mengambil Inspirasi dari kisah sukses; kedua, lakukan Copy The Master, Ketiga, ‘Ngenek’ alias magang. Ketiga langkah ini bisa dilakukan kepada setiap Success Story yang ada seperti Sosro dan Primagama di lingkup nasional; atau sang Maestro bisnis dunia Abdurrahman bin Auf dll. Tentu saja dengan mengkonversinya ke dalam uslub dakwah.
Dakwah kita bisa lebih cepat tumbuh dan berkembang jika secara menerus kita lakukan improvisasi tiada henti saat melakukan proses peneladan tadi. Maksudnya, kita menirunya dengan tidak membiarkan diri melupakan potensi karakter positif yang khas pada dakwah kita, serta tanpa memandulkan proses kreatif dan inovatif kita. Dan ini catatan akhirnya, tidak membawa kita pada pelanggaran hukum syara. Jika dibuat rumusnya, maka akan menjadi “Meneladani contoh sukses yang ada dengan tetap memunculkan karakter positif yang khas pada diri kita secara kreatif dan inovatif, tanpa melanggar hukum syara”. Boleh juga disebut, inilah, kurang lebihnya, Benchmarking Islami.
Bisakah ini dilakukan? Insya Allah bisa, mengapa tidak? Coba lihat …
 Jika Lion Air dengan kepeloporan penerbangan low cost – nya sukses menggaet 50% penumpang domestik di tahun 2009, maka ini inspirasi agar dakwah kita menjadi pelopor dakwah bagi semua kalangan mahasiswa yang akan membawa mereka terbang meraih Mimpi Besarnya. Ini berarti, dakwah yang kita lakukan juga harus dapat memberi motivasi super kuat untuk meraih kesuksesan dunia akhirat bagi semua kalangan mahasiswa.
 Jika Garuda Food dikenal sebagai perusahaan inovatif dan sukses sebagai genuine local negeri ini dengan ikon kacang Garudanya, maka inspirasinya adalah dakwah kita mesti dikenal sebagai ikon pergerakan dakwah mahasiswa, misalnya sebagai trend setter pergerakan mahasiswa lainnya. Ini terjadi, misalnya, ketika isu strategis yang kita munculkan juga akan dijadikan isu strategis oleh pergerakan mahasiswa lainnya.
 Jika Yamaha Motor makin agresif ingin menjadi market leader yang sukses karena konsisten membangun imej “Semakin Di Depan”, maka tak salah, jika kita juga menancapkan azzam kuat yang sama. Kitalah penentu gerak dakwah kampus yang sesungguhnya, sehingga bargaining position kita sangat tinggi dan rektorat pun menaruh hormat dan menyegani kita hingga untuk mengambil kebijakan kemahasiswaan pun sang rektor mesti mendengar pendapat kita lebih dulu.
 Jika Sido Muncul sukses terus berinovasi untuk mempertahankan perilaku konsumen Indonesia agar tetap minum jamu dengan kampanye “Orang Pintar Minum Tolak Angin”, maka boleh juga kita mengkampanyekan “Orang Sengsara Karena Tolak Syariah” atau “Mahasiswa Cerdas Pasti Berdakwah”.
 Jika Primagama sukses menjadi bimbingan belajar terbesar di nusantara dengan 678 cabang yang sebagian besar di-franchise-kan dengan jurus khas berani menggaransi uang kembali jika tidak lulus UN!, mengapa tidak kita sampaikan garansi masuk surga dari Allah Swt bagi siapapun yang beriman dan beramal sholeh, termasuk mahasiswa yang beriman dan beramal sholeh dan dakwah adalah salah satu amal sholeh yang dimaksud. Kita sebarkan dakwah dengan jaringan dakwah yang terbina standar di setiap fakultas, jurusan dan program studi.
 Jika Dagadu Djokdja yang sukses tumbuh menjadi “pabrik kata-kata” yang berhasil menjual 5.000 kaos sehari dengan harga kaos sekitar 50 ribu, mengapa tidak kita menjadi ‘pabrik kata-kata dakwah’ yang menjual 5.000 kata dakwah per hari secara kontinyu dan intensif!
 Jika sukses Sosro menambah khasanah ‘peribahasa bisnis’ dengan iklannya yang terkenal “apapun makanannya, minumnya …”, maka kita bisa membuat ‘peribahasa dakwah’ : “apapun latar belakangnya, dakwahnya adalah Islam ideologis…”
 Contoh akhir untuk tulisan ini penting digarisbawahi. Peradaban Islam menghasilkan begitu banyak figur sukses yang membangkitkan umat dan mensejahterakan dunia selama 14 abad. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf sebagai satu contoh bisnis sukses sepanjang peradaban manusia yang belum tertandingi hingga kini. Bisnis yang benar-benar sukses menuai ‘berkat’ dan berkah. Sukses bisnis yang mengguncang dunia dengan multikompetensi khas hasil implementasi peradaban Islam yang luar biasa. Dengan begitu banyak harta yang diinfaqkan di jalan Allah, ketika meninggal pada usia 72 tahun, beliau masih meninggalkan asset 2.560.000 Dinar. Subhanallahu (silakan konversikan ke rupiah, dimana 1 dinar = 4,25 gram emas atau sekitar Rp 1.275.000,- jika 1 gram emas bernilai Rp 300.000,-). Maka, inspirasi besarnya adalah, mulai saat ini, seluruh kru dakwah segera meningkatkan kapasitas diri dengan menghadirkan multikompetensi yang diperlukan bagi dakwah, seperti fiqhud dakwah, teknik komunikasi, leadership, dll. Mulai saat ini, seluruh kru dakwah berlatih memperbanyak infaq dan pengorbanan waktu, pikiran dan tenaga di jalan dakwah. Mulai saat ini juga, memulai bisnis Islami yang akan menopang nafkah diri, keluarga dan dakwah.

Sungguh, kreativitas nyaris tanpa batas. Jadi Improvisasi Tiada Henti dengan Kreativitas melahirkan Ciri Khas yang dinanti umat. Ciri khas ini seiring waktu menjelma menjadi Kompetensi Inti. Dengan ini, secara sederhana, kita telah mampu membuat dakwah melaju optimal dan tampilan uslub dakwah selalu segar dan dinanti umat . Insya Allah.

Sahabat Pembangkit Umat,
Tetaplah semangat, dayagunakanlah kompetensi inti dan improvisasi secara kreatif dan inovatif agar laju dakwah optimal serta tampilan uslub dakwah selalu segar dan dinanti umat. Semoga Allah Swt mengampuni dosa yang telah khilaf dilakukan, memudahkan langkah dakwah yang telah diayunkan dan merahmati komitmen dan konsistensi dakwah ini demi segera tegaknya izzah Islam dan kaum Muslimin. Amin.

Alhamdulillah …luar biasa … Allahu akbar!!!

Visi dan Nilai Sebagai Kendali Gerak Dakwah

Sahabat Pembangkit Umat,
Seperti biasa agar asa selalu ada bergelora, kita mulai dengan … apa kabar hari ini? Alhamdulillah…Luar Biasa…Allahu Akbar!!! Alhamdulillah, tetap penuh syukur atas nikmat Iman, Islam dan predikat “Sebaik-baik Penciptaan” lengkap dengan seluruh potensi kehidupannya (QS. At Tin : 4). Luar Biasa, selalu penuh doa dan cita agar bisa mewujud diri menjadi Muslim Terbaik (QS. Al Fushilat : 33) dan membangkitkan umat menuju predikat Umat Terbaik (QS. Ali Imran : 110). Allahu Akbar, gelora penuh takbir karena semua ini terjadi atas izin-Nya. Jangan lupa, ketika menjawab lengkapi dengan ekspresi penuh semangat!

Sahabat Pembangkit Umat,
Dalam tulisan sebelumnya, kita telah diinspirasi untuk bisa maksimal mendayagunakan kompetensi yang dimiliki agar laju dakwah optimal sempurna. Juga, bagaimana mengimprovisasi dakwah secara kreatif dan inovatif agar selain melaju tampilan dakwah juga selalu segar dan dinanti oleh umat. Nah, kali ini, akan dibahas Visi dan Nilai sebagai Kendali Gerak Dakwah.

Sebagai sebuah organisasi atau dakwah yang teorganisasi, kendali pada visi dan nilai menjadi suatu keniscayaan. Mengapa? Karena dakwah telah melibatkan sedemikian banyak da’i dan sumberdaya yang penggerakannya menghendaki kesamaan dalam pemikiran, perasaan dan aturannya. Jika tidak, dakwah akan mudah tergelincir dalam nuansa miskomunikasi, ‘misleading’, dan bahkan misorganisasi. Jika sudah begini, dakwah akan diam tak bergerak. Sungguh mengerikan!

Baiklah, kita lanjutkan. Visi tempatnya ada pada strategi organisasi. Namun, di atas strategi organisasi itu sebenarnya terdapat nilai atau, lengkapnya, nilai-nilai utama yang memandu arah organisasi. Disebut nilai utama, sebab ia menjadi sandaran utama yang akan memayungi semua aktivitas organisasi. Karena - dalam perspektif Islam - keberadaan manajemen organisasi dipandang pula sebagai suatu sarana untuk memudahkan implementasi Islam dalam kegiatan organisasi tersebut, maka nilai-nilai Islam inilah sesungguhnya nilai utama organisasi yang menjadi payung strategis hingga taktis seluruh aktivitas organisasi.

Lalu, bagaimana selanjutnya dengan visi? Visi adalah cara pandang yang menyeluruh dan futuristik terhadap keberadaan organisasi. Pernyataan visi menjawab pertanyaan, akan menjadi sosok organisasi seperti apa dalam lima tahun mendatang (the what). Dalam koridor strategi induk organisasi, keberadaan Visi selalu dijabarkan dengan Misi dan Tujuan. Misi merupakan pernyataan yang menjelaskan alasan pokok berdirinya organisasi dan membantu mengesahkan fungsinya dalam masyarakat atau lingkungan. Dalam bentuk yang sederhana, pernyataan misi menjawab pertanyaan, aktivitas apa yang akan dilakukan organisasi agar sosok yang diharapkan tadi (dalam visi) dapat terwujud (the why). Sementara, tujuan adalah akhir perjalanan yang dicari organisasi untuk dicapai melalui eksistensi dan operasinya serta merupakan sasaran yang lebih nyata dari pernyataan misi.

Ada empat syarat untuk menetapkan dan menulis visi menurut Bennis dan Mische (1996). Syarat pertama, mencakup segala hal dan berani, menekankan hasil yang luar biasa ketimbang hanya hasil yang bertahap. Kedua, menciptakan rasa kekuatan, semangat dan komitmen ketimbang kegelisahan, kepanikan, dan intimidasi. Ketiga, realistis dan dapat dicapai, dipergunakan sebagai pedoman bagi semua aktivitas organisasi. Keempat, spesifik dan harus dinyatakan dengan keyakinan; sebab visi adalah artikulasi dari citra, nilai, arah dan tujuan yang akan memandu masa depan organisasi.

Ada banyak visi organisasi yang layak kita cermati, paling tidak kita jadikan benchmarking dengan visi kita saat ini, misalnya :
• Bank Muamalat Indonesia (BMI), Menjadi bank syariah utama di Indonesia, dominan di pasar emosional, dikagumi di pasar rasional.

• RS PMI Bogor, Menjadi rumah sakit yang memberikan pelayanan terbaik dengan unggulan di bidang traumatik dan kegawatdaruratan.

Yang spesifik dakwah, bisa tampak dari contoh berikut :
• Visi BKIM IPB : Menjadi Lembaga Dakwah yang Ideologis dan Profesional bagi terwujudnya Mahasiswa Muslim IPB yang Patuh pada Syariat Islam, Dinamis dan Kreatif.

• Working Group Syariat Islam Aceh : Menjadi jaringan kerja penggerak partisipasi publik dalam formulasi, implementasi dan pengendalian kebijakan Syariat Islam di Aceh.

Nah, sekarang bagaimana mengimplementasikan visi dan nilai sebagai kendali gerak dakwah kita? Menjadikan kendali gerak dakwah artinya dengan menetapkan acuan, standar atau tolok ukur strategis dan operasional bagi perjalanan organisasi dakwah kita yang diderivasikan dari nilai dan visi. Tolok ukur strategis lebih bersifat kualitatif dan bersandarkan pada nilai-nilai yang dianut organisasi. Sementara, tolok ukur operasional lebih bersifat kuantitatif dan didasarkan atas kesepakatan hasil perhitungan atau analisis bersama dalam menjalankan aktivitas organisasi sebagai turunan berikutnya dari visi.

Sahabat Pembangkit Umat,
Dengan begitu, berdasarkan nilai-nilai utama, maka kendali itu akan berupa penetapan visi (juga misi dan tujuan) organisasi, baik secara eksplisit maupun implisit, yang menggambarkan orientasi strategis organisasi. Dengan demikian, visi yang diusung adalah menjadikan organisasi sebagai wahana para pengelolanya dalam melaksanakan dakwah dalam rangka meraih keridloan Allah SWT. Misi dan tujuannya adalah bahwa keberadaan organisasi pada hakikatnya adalah untuk mewujudkan dakwah yang benar-benar dapat menggugah sehingga dapat mewujudkan ketaatan terhadap syariat. Jika berhubungan dengan pembinaan SDM, bagaimana mewujudkan SDM dakwah yang memiliki kematangan kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah), melalui pola fikir dan pola sikap yang Islami serta profesional, yakni kafa’ah (berkeahlian); himmatul 'ammal (beretos kerja tinggi); dan amanah (terpercaya), dan sebagainya.

Kendali berikutnya, atas dasar visi yang telah ditetapkan itu pula, maka tolok ukur strategis bagi aktivitas dakwah organisasi adalah hukum syara atau syariah Islam itu sendiri. Aktivitas organisasi - apapun bentuknya - pada hakikatnya adalah aktivitas manusia yang akan selalu terikat dengan hukum syara. Hal ini sebagaimana kaidah ushul yang menyatakan “al-aslu fi al-af’al attaqoyyadu bi al-hukmisy syar’i”, yakni hukum asal suatu perbuatan adalah terikat pada hukum syara yang lima, yakni wajib, sunah, mubah, makruh atau haram.

Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan oleh Imam Bukhari, menyatakan : “Semua umatku akan masuk sorga kecuali orang yang enggan.” Ada salah seorang sahabat yang bertanya : “Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Barang siapa yang taat kepadaku maka ia masuk sorga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia itu enggan.” Dengan demikian, orang yang merindukan keselamatan hidup akan senantiasa terikat dengan hukum syara tersebut. Karena hukum syara mengikat setiap SDM organisasi, maka aktivitas organisasi yang hakikatnya dilakukan oleh SDM organisasi pun dengan sendirinya tidak akan lepas dari koridor hukum syara.

Visi (juga misi dan tujuan) serta kedua tolok ukur di atas lazimnya akan nampak pada organization culture dan implementasi strategi berikutnya. Hukum syara sebagai tolok ukur strategis akan menjadi koridor bagi seluruh aktivitas keorganisasian segenap SDM organisasi.

Bila visi telah berhasil ditetapkan, seperti tampak pada contoh visi di atas, penting untuk disimak sebagai ‘warning’, enam sebab mengapa visi (dan misi) sebagian organisasi menjadi tidak efektif sebagai kendali seperti yang ditulis dalam Faisol (2002).

•Sebab 1. Konsep tentang visi (dan misi) itu sendiri tidak jelas.
•Sebab 2. Secara intrinsik organisasi tidak secara sungguh-sungguh mendambakan dan mengusahakan tercapainya visi (dan misi) itu sendiri. Organisasi tidak memiliki motivasi.
•Sebab 3. Rumusan visi (dan misi) dianggap tidak realistis untuk dicapai. Artinya, visi (dan misi) tersebut tidak dipercaya oleh konstituen organisasi karena tidak selaras dengan sistem nilai organisasi.
•Sebab 4. Visi (dan misi) organisasi tidak fleksibel, sementara organisasi harus tangguh menghadapi berbagai tantangan dan teguh menuju arah yang telah ditetapkan.
•Sebab 5. Visi (dan misi) organisasi tidak didukung oleh strategi dan manajemen yang tepat.
•Sebab 6. Visi (dan misi) organisasi tidak ditopang oleh kepemimpinan yang mampu merealisasikan visi (dan misi) organisasi tersebut menjadi kenyataan.

Inilah makna kendali pada visi dan nilai. Semakin menegaskan bahwa dakwah kita adalah dakwah yang terkendali dengan mantap oleh Islam sebagai Nilai-nilai utama dan Visinya.Tak akan pernah sedikitpun bergeser dari Islam. Karena hanya dengan itu, Allah ridlo pada dakwah kita. Insya Allah.

Sahabat Pembangkit Umat,
Tetaplah semangat, dayagunakanlah kompetensi inti dan improvisasi secara kreatif dan inovatif agar laju dakwah optimal. Islam dalam visi dan nilai menjadi kendalinya. Semoga Allah Swt mengampuni dosa yang telah khilaf dilakukan, memudahkan langkah dakwah yang telah diayunkan dan merahmati komitmen dan konsistensi dakwah ini demi segera tegaknya izzah Islam dan kaum Muslimin. Amin.

Alhamdulillah …luar biasa … Allahu akbar!!!

Sekolah dan Kebangkitan

Banyaknya sekolah atau institusi pendidikan, serta bertambahnya sarjana dan lulusan pakar di dalam semua bidang, apakah hal itu merupakan tanda kebangkitan, atau hanya jalan menuju kebangkitan? Definisi yang terkenal dari sekolah adalah lembaga yang menghendaki kehadiran penuh kelompok-kelompok umur tertentu dalam ruang-ruang kelas yang dipimpin oleh guru untuk mempelajari kurikulum-kurikulum yang bertingkat. Sekolah saat ini dianggap sebagai lembaga yang melakukan transfer ilmu di waktu dan tempat yang telah ditentukan dengan kurikulum yang baku.

Faktanya menunjukkan bahwa dalam suatu negara banyak terdapat sekolah dan lulusan pakar di bidang tertentu tidak menjamin bangkitnya negara tersebut. Bahkan sekolah dan lulusan pakar yang berasal dari sekolah itu cenderung tidak berguna dan tidak mampu menyelesaikan masalah dan membawa kebangkitan terhadap negara beserta umat dengan keilmuan yang didapatkan di sekolah. Sebut saja India, jumlah lulusan pakar di sana sangat banyak, namun tingkat kemakmurannya belum ada apa-apanya, justru terdapat di sanalah orang-orang termiskin dan termundur di dunia. Yang membuat miris adalah para lulusan pakar tersebut hanya bisa berwacana dengan teori-teori keilmuan mereka, yang tak menghasilkan apa-apa (tidak bekerja menyelesaikan masalah di bidangnya masing-masing). Hal ini juga yang menyebabkan mereka terpaksa mencari alternatif pekerjaan di tempat lain.



Sehingga sekolah dan lulusan pakarnya tidak bisa dijadikan standar kebangkitan. Mengapa? Jawabnya karena di dalam sekolah hanya terjadi ta’lim (proses transfer ilmu saja), di mana orang menuntut ilmu hanya untuk pengetahuan dan sifatnya untuk akademis semata. Sekolah terikat dengan kurikulum yang tetap (statis), jadi memang tidak bisa menyesuaikannya dengan kenyataan yang dihadapi di lapang, wajar jika teori-teori keilmuan mereka mengendap dan tidak ada fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan.



Fakta lain dari sekolah adalah pengaruh sekolah hanya tampak secara individual. Ia mampu mencerdaskan seorang individu dengan ilmu-ilmu, namun parsial, mampu mempengaruhi perasaan individu, tetapi tidak mempengaruhi pemikirannya. Oleh karena itu ia bersifat teoritis, tidak aplikatif. Dengan demikian, apakah sekolah yang tidak mampu merangsang pemikiran seseorang dapat membangkitkan? Tentu tidak. Sedangkan, kebangkitan yang diharapkan hadir dari kalangan terpelajar atau cendekiawan tersebut justru tak mampu membangkitkan umat, menyelesaikan masalah-masalah umat. Berarti ada yang salah mengenai konsep kebangkitan. Oleh karena itu, perlu didudukkan kembali makna kebangkitan.

Merujuk Kamus Dewan (Edisi Ketiga). (2002:101). Kebangkitan dapat diartikan dengan bangun, kesadaran, serta kegiatan yang membawa kemajuan. Ini bermakna kebangkitan adalah suatu proses pembangunan dan kesadaran tentang perkara yang perlu direformasikan yang mana melibatkan kegiatan-kegiatan yang membawa kemajuan kepada masyarakat. Ini adalah teori umumnya. Makna sebenarnya dari kebangkitan lebih dalam daripada itu.

Kebangkitan dalam bahasa arab disebut an-nahdhah, yaitu dikaitkan dengan kamajuan di berbagai bidang keilmuan, peningkatan produktivitas, pesatnya perkembangan industri, kecanggihan teknologi, dan banyaknya penciptaan alat-alat yang semakin memudahkan dan memakmurkan kehidupan. Kebangkitan dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan atau keadaan yang meningkat ke arah/peringkat yang lebih baik. Untuk mencapai tahap itu, bagi orang-orang yang ingin bangkit, maka mau tidak mau haruslah memecahkan permasalahan pokok kehidupan dengan pemecahan yang benar, yakni yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan hati hingga tidak ada keraguan di dalamnya. Permasalahan pokok tersebut tertuang dalam tiga pertanyaan besar tentang kehidupan, yaitu, darimanakah manusia berasal, untuk apakah manusia hidup di dunia ini, dan akan kemanakah manusia setelah kehidupannya berakhir di dunia. Pertanyaan ini harus dipecahkan dengan benar. Karena ialah yang akan menjadi akidah seseorang, landasan berfikir seseorang, dan kepemimpinan berfikir seseorang, termasuk dalam menyelesaikan masalah-masalah cabang lainnya.

Dengan demikian, negara dan umat semestinya menyadari arti kebangkitan ini. Sehingga tidak serta-merta menstandarkan kebangkitan dari sekolah dan lulusan-lulusan pakar dari sekolah. Karena, sekolah bukanlah proses pembinaan yang di dalamnya terdapat proses berfikir, sehingga tidak dapat menggerakkan pemikiran seseorang. Sedangkan, orang yang dikatakan bangkit adalah yang mampu mengubah jalan pemikirannya/pemahamannya tentang kehidupan. Dan hal itu tidak diajarkan/diterapkan di sekolah. Maka, kembali kepada individu masing-masing, tidaklah mengandalkan sekolah untuk menuju kepada kebangkitan. Tugas ini, dalam mengajak seseorang menggunakan akalnya/berfikir, hakikatnya adalah tugas sebuah jama’ah, bukan sekolah.

Rasulullah-The Zikr

Rasulullah,
Dalam mengenangmu
Kami susuri lembaran sirahmu
Pahit getir perjuanganmu
Membawa cahaya kebenaran

Ketika turun firman Allah:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,”
TQS asy-Syu’ara[26]:214

Rasulullah saw keluar hingga naik ke bukit Shafa, kemudian berteriak,” Hai, selamat pagi!” Kaum Quraisy berkata,” Siapa yang berteriak itu?” Mereka berkata,” Ia adalah Muhammad.” Kemudian mereka berkumpul menghampirinya. Beliau bersabda:

“Bagaimana pendapat kalian jika aku kabarkan bahwa saat ini ada pasukan kuda yang keluar dari balik bukit ini, apakah kalian akan mempercayaiku? Mereka berkata,” kami tidak pernah mengenalmu berdusta.” Beliau bersabda,” sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan bagi kalian, bahwa di hadapanku ada siksa yang sangat keras.” Abu Lahab berkata,” Celaka engkau Muhammad, apakah untuk ini kau mengumpulkan kami?”
(diriwayatkan oleh Ibnu Abbas)

Engkau taburkan pengorbananmu
Untuk umatmu yang tercinta
Biar terpaksa tempuh derita
Tegarnya hatimu menempuh ranjaunya

Rasulullah saw bersabda: “Aku telah disiksa karena Allah, dan tidak ada seorang pun yang dianiaya. Aku telah ditakut-takuti karena Allah, dan tidak ada seorang pun yang ditakut-takuti. Aku telah diboikot selama tiga hari tiga malam, dan aku tidak melihat makanan sedikit pun kecuali yang tersembunyi di balik ketiak Bilal.”
(Ibnu Hibban, dalam kitab Shahih-nya)

Tak terjangkau tinggi pekertimu
Tidak tergambar indahnya akhlaqmu
Tidak terbalas segala jasamu
Sesungguhnya engkau Rasul mulia

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. TQS al-Ahzab[33]:21

Tabahkan hatimu menempuh dugaan
Mengajar arti kesabaran
Menjulang panji kemenangan
Terukir namamu di dalam alQur’an

“Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “ Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” TQS al-Baqarah[2]:214

Rasulullah,
Kami umatmu
Walau tak pernah melihat wajahmu
Kami cuba mengingatimu
Dan kami cuba mengamal sunnahmu

“Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata:”Wahai Rasulullah saw, bagaimana pendapatmu tentang seorang yang mencintai suatu kaum tapi tidak bertemu dengan mereka?” Maka Rasulullah saw bersabda,” Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya.”
(dari Abdullah bin Mas’ud yang disepakati al-Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang” TQS al-Baqarah [2]:218

Kami sambung perjuanganmu
Walau kami dicaci dihina
Tapi kami tak pernah kecewa
Allah dan Rasul sebagai pembela

“Dan ingatlah ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” TQS al-Anfaal[8]:30

“Akan datang suatu kaum kepada Allah pada hari kiamat nanti. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abu Bakar berkata,”Apakah mereka itu adalah kami ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda:”Bukan tapi kalian memiliki Banyak kebaikan. Mereka adalah orang-orang fakir yang berhijrah. Mereka berkumpul dari berbagai penjuru bumi.” Kemudian beliau bersabda:”Kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanyakan pada beliau,” Siapakah orang-orang yang terasing itu?” Beliau saw bersabda:”Mereka adalah orang-orang shalih, yang jumlahnya sedikit di antara manusia yang buruk. Orang yang menentang mereka lebih banyak daripada orang yang menaatinya.” (al-Haitsami berkata hadits ini dalam al-Kabir mempunyai banyak sanad, para perawinya shahih)

Menjadikan LDK Berpengaruh Dan Kuat ?

Bagaimana menjadikan LDK kita berpengaruh di kampus, baik untuk opini dan perekrutan yang cepat, tetapi tetap kita bisa menjaga thariqah dakwah walaupun banyak kemauan dan tawaran baik dari calon kader ataupun lembaga lain yang kadang menuntut kita melakukan sesuatu di luar thariqah kita dikarenakan ketidaktahuan mereka. Bagaimana cara kita menjaga perasaan mereka jika kita harus menolak permintaan mereka tetapi mereka mau ikut kita?

JAWABAN

Di awal tulisan ini, saya ingin menyampaikan hal-hal pokok sebagai berikut :
1. Kesuksesan dakwah akan tercapai apabila Allah ridha.
2. Keridhaan Allah jauh lebih penting dibanding segalanya
3. Keridhaan Allah akan berhasil kita raih bila kita selalu mengikuti syariat Allah dan rasul-Nya
4. Keridhaan Allah tidak akan tercapai dengan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan
5. Ketika telah yakin dengan metode dakwah Rasul maka perilaku selanjutnya adalah istiqamah dalam jalan itu.
6. Pengemban dakwah bukanlah “alat pemuas” yang harus memuaskan semua orang.

Enam hal pokok di atas harus benar-benar menghunjam dalam jiwa setiap kader dakwah sehingga dirinya akan berkarakter militan, tangguh, istiqamah dan tidak risau dengan aral melintang yang menghadang dakwah. Oleh karena itu Allah dan rasul-Nya harus kita tempatkan di atas segalanya dan jangan pedulikan orang lain bilang apa. Sedangkan dalam konteks penataan cara-cara gerak (uslub) di lapangan maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi (100%;100%). Maksud dari (100%;100%) dapat dilihat dari bagan dibawah ini.

Makna (100%;100%) adalah :

*

Dari aspek muatan/isi dakwah (content) harus benar-benar 100% ideologis, artinya isi Islam harus benar-benar terbuka sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.
*

Dari aspek kemasan dakwah (contex) harus diupayakan benar-benar 100% komunikatif-empatik. Komunikatif bermakna mudah dipahami dan empatik bermakna menjangkau kondisi faktual (pemikiran dan perasaan) obyek dakwah.


Kita jangan pernah sekali-kali memilih (0%;100%), maksudnya kemasan dakwahnya luar biasa tetapi tidak ada muatan ideologisnya sama sekali. Banyak kader dakwah terjebak di tempat ini ketika dia berhadapan dengan tantangan dakwah yang berat. Bila para kader dakwah memilih (0%;100%) atau malah (negatif 5%;100%) dengan mencampurkan muatan dakwahnya dengan kebatilan maka sampai kapanpun perubahan ke arah yang diharapkan Islam tidak akan pernah tercapai.

Cara menjadi (100%;100%) adalah sebagai berikut :
1. Tumbuhkan keyakinan yang kuat akan Ideologi Islam tanpa keraguan sedikitpun. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan pemahaman kita akan ideologi Islam dan meningkatkan kedekatan kita kepada Allah SWT.

2. Tumbuhkan karakter pemberani, optimis dan tidak ada rasa takut kecuali kepada Allah SWT. Dengan cara ini para kader dakwah akan menjadi militan dan berani mengungkapkan ideologi Islam secara terbuka dalam muatan dakwahnya. Hal ini dapat dicapai hanya dengan membiasakan sifat-sifat tadi setiap hari sehingga akan melekat menjadi karakter diri. Oleh karena itu kita harus keras mendidik diri kita menjadi militan sehingga kita mampu melawan kerasnya medan dakwah.

3. Tumbuhkan kebiasaan terjun dan bergaul dengan banyak kalangan (perorangan maupun lembaga) dengan latar belakang apapun sehingga kita dapat menyelami kondisi faktual mereka. Hal ini penting agar kita mampu mengemas ide yang penuh keberanian ideologis tadi dengan pola komunikasi yang penuh empatik dan kreatif.

Lakukanlah terus-menerus untuk menjadi 100% ideologis dan 100% komunikatif. Harapan dari (100%;100%) ini adalah agar dakwah kita benar-benar membawa perubahan dan dapat diterima oleh banyak kalangan. Walaupun demikian ingatlah nasehat saya di awal tulisan ini, kader dakwah bukanlah “alat pemuas” yang kemudian menjadikan kepuasan obyek dakwah sebagai tolok ukur keberhasilan dakwah. Jadi kalaupun ada orang atau lembaga yang tidak puas dengan dakwah kita maka jangan menyebabkan kita pusing selama kita telah mengedepankan keberanian ideologis dan telah berupaya semaksimal mungkin untuk komunikatif-empatik.
Wallahu’alam

Anggota Tim Dakwah Aktif, Tetapi Susah Diatur

Pertanyaan :
Saya punya anggota dimana anggota ini sangat aktif. Dia sering kontak, segi intelektual bagus, aktif membangun opini keluar, dll. Hanya dia cenderung bergerak sendiri tanpa koordinasi dengan anggota tim lainnya. Bahkan PJ tim jarang diberitahukan apa yang dia lakukan. Kita juga sering mengajaknya untuk rapat tim, bergerak dengan tim, tetapi diakhir-akhirnya ketika usulan-usulannya tidak diterima tim, atau acara yang dia usulkan ditolak, dia tidak aktif dalam acara yang dibuat tim.

Dia hanya akan aktif jika acara itu merupakan usulan dari dia, tapi memang dia bertanggungjawab untuk menjalankannya hanya saja kembali ia sendiri yang melakukannya. Tapi setelah kita perhatikan setiap acara yang dia buat selalu berujung kepada kekurangefektifan bahkan sering gagal. Namun, anehnya hal ini terus dia lakukan, sepertinya pengalaman masa lalu dengan bekerja sendiri dan kurang kerjasama yang gagal tidak pernah dia alami. Kadang ketika ada yang mencoba memberi pengertian, kita seperti dianggap kurang ngerti dengan keadaan, ataupun alasan lainnya. Malah seperti kita yang salah jadinya. Kadang kita akhirnya harus mengalah agar tidak terjadi perdebatan yang melukai perasaan. Menurut mas apa yang harus saya lakukan?.

Jawaban :
Saudaraku seperjuangan yang dimuliakan Allah SWT, semoga tidak pernah ada kata menyerah dalam hatimu untuk terus membangun tim dakwah yang kuat.

Secara umum, seseorang bersedia bergabung ke dalam sebuah tim dakwah ketika :
1. Pemikiran pribadinya telah selaras dengan pemikiran tim
2. Tujuan pribadinya telah selaras dengan tujuan tim
3. Cara-cara yang dia pikirkan untuk mencapai tujuan telah selaras dengan cara-cara tim untuk mencapai tujuan
4. Dia yakin bahwa dengan bekerja secara tim maka tujuan akan lebih cepat tercapai

Semakin lengkap syarat di atas maka semakin kuat kesediaan seseorang untuk bergabung ke dalam sebuah tim dakwah. Implikasi praktisnya adalah setiap pribadi ‘bebas memilih’ untuk memutuskan :
- Tetap di dalam atau keluar dari tim,
- Bekerjasama secara aktif dan mengambil tanggung jawab atau pasif dan melepaskan tanggung jawab,
- Memberi kontribusi atau malah menghindarinya.

Saya akan merangkum problem yang antum sampaikan sebagai berikut :
1. Si anggota tim aktif bergerak tetapi cenderung sendiri tanpa koordinasi dengan tim.
2. Si anggota tim mau menjalankan tugas yang sesuai dengan usulannya.
3. Si anggota tim tidak akan berkontribusi kepada tim ketika usulannya tidak disetujui.

Melihat problem di atas maka saya menangkap bahwa si anggota tim sebenarnya telah sepakat dan selaras dengan tim dalam konteks pemikiran maupun tujuan bersama. Tetapi dalam konteks cara bergerak untuk mencapai tujuan tidak selaras. Si anggota tim sangat yakin dengan cara-cara bergerak yang dia pikirkan, tetapi ternyata sering tidak sesuai dengan keputusan tim. Dia tidak yakin bahwa cara-cara bergerak yang diputuskan tim akan lebih cepat mencapai tujuan daripada cara-cara yang dia pikirkan. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak berkontribusi pada pekerjaan tim, tidak aktif dalam tim dan melepaskan tanggung jawab dari tim. Apabila ini berlangsung dalam waktu yang lama maka akan terjadi ketegangan psikologis dalam tubuh tim.

Solusi terhadap problem ini dapat dilakukan dalam 2 aspek yaitu :
- Aspek pribadi si anggota tim
- Aspek kepemimpinan dan manajemen pengelolaan tim

Dari aspek pribadi si anggota tim maka ada tantangan pada sikap egoisnya. Egonya telah berada pada kondisi yang kritis. Hal ini biasanya telah terbentuk cukup lama karena kebiasaan masa lalu dan lingkungan yang akhirnya membentuk karakternya seperti saat ini. Untuk mengubahnya memerlukan proses, yang tidak semudah membalikkan tangan. Perlu pendekatan dan pendampingan yang intensif untuk mengubahnya. Disinilah perlunya seorang guru yang mendampingi dan memantau perkembangan karakternya. Pendampingan yang intensif terutama terkait dengan sikap mental berjamaah dan ketaatan pada pemimpin harus terus disuntikkan. Oleh karena itu antum sebagai PJ kampus dapat mencarikan seorang guru yang dapat menjalankan amanah ini.

Dari aspek kepemimpinan dan manajemen tim dapat dilakukan perbaikan sebagai berikut :
1. Pemimpin tim harus semaksimal mungkin memelihara minat para anggotanya agar tetap bekerjasama aktif, mengambil tanggungjawab dan memberikan kontribusi kepada tim. Hal ini dapat dilakukan dilakukan dengan misalnya :
- Meyakinkan kepada anggota tim bahwa cara-cara bergerak yang disepakati dalam tim insya Allah akan mencapai hasil yang lebih tinggi
- Membuat gebrakan-gebrakan gerakan yang mampu membangun kesadaran dan kebanggaan sebagai anggota tim
- Membuat keberhasilan-keberhasilan yang dapat dirasakan oleh seluruh anggota tim walaupun itu kecil.
- Membuat kegiatan-kegiatan informal yang mampu memperkuat kekuatan tim, misalnya futsal bersama, rujakan bersama atau lainnya yang sangat kondisional
- dll
2. Pemimpin tim harus semaksimal mungkin mengelola tim dengan pendekatan partisipatif. Hal ini dapat dilakukan dengan misalnya
- Membudayakan setiap keputusan semaksimal mungkin dilakukan dengan meminta pendapat terlebih dahulu dari semua anggota tim
- Membudayakan rapat-rapat yang didahului dengan brainstorming
- Membudayakan kunjungan informal kepada anggota tim untuk mendengarkan aspirasi mereka
- dll

Upayakan solusi di atas secara maksimal dan jangan pernah menyerah untuk membangun tim dakwah yang kuat. Proses ini sekaligus menjadi proses belajar bagi kita untuk menjadi pemimpin tim dakwah yang hebat. Proses ini tidak selamanya akan menghasilkan output yang optimal. Apabila proses telah antum lakukan dengan maksimal tetapi ternyata si anggota tim tetap juga tidak dapat bergerak bersama dalam tim maka pilihan untuk melepaskannya keluar dari tim adalah pilihan yang terbaik.

Wallahu ‘alam

Solusi Anggota Tim Dakwah Tidak Bergerak

Pertanyaan:
Mas, saya punya tim dakwah. Ada masalah yang unik dan perlu pemecahan. Saya adalah PJ Kampus yang bergerak secara tim di sebuah kampus.

Saya punya anggota, memiliki sifat suka ngaji, rajin mengikuti acara-acara Tim dakwah. Tetapi kalau diminta untuk bergerak dalam rangka menyadarkan masyarakat sekitar, membangun opini, audiensi ke organisasi-organisasi seperti selalu memiliki banyak alasan yang membuatnya tidak ikut bergerak. Ada kecenderungan, dia berpikir bahwa ketika sudah ngaji, mengikuti kegiatan-kegiatan upgrading dari tim sendiri berarti sudah berdakwah. Sedang hal diluar itu tidak terlalu harus diprioritaskan. Saya melihatnya kalau keadaan ini terus berlangsung akan menjalar kepada anggota yang lain. Khawatir semua menjadi ikut-ikutan tidak bergerak, fokus pada agenda tim, tetapi tidak bisa bergerak keluar. Tanggapan mas dan solusi untuk ini kira-kira apa yang harus saya lakukan?.

Jawaban
Sahabat penanya yang dimuliakan Allah SWT, semoga kepercayaan diri dan semangat yang kuat sebagai PJ Dakwah Kampus tetap ada pada antum.

Tidak bergeraknya anggota tim dakwah setidaknya disebabkan 2 hal :
1. Problem personal
2. Problem cara

Problem personal dapat dilihat dari pihak anggota tim dakwah yang tidak bergerak dan pemimpin tim dakwah.

Orang (dari aspek personal) akan bergerak ditentukan oleh :
1. Sejauhmana dia mengerti mengapa dia harus bergerak.
2. Sejauhmana kecenderungan dia untuk bergerak.

Dari pertanyaan antum, saya mengamati anggota tim dakwah yang antum sampaikan sudah mengerti mengapa dia harus bergerak. Kemungkinan besar masalahnya ada pada kecenderungan untuk bergerak. Aspek ini sangat terkait dengan pola jiwa (nafsiyah). Oleh karena itu harus ada peningkatan aspek nafsiyah. Kedekatan dengan Allah harus ditingkatkan, surga dan neraka harus ditampakkan seperti di depan mata, kisah-kisah sahabat yang berjuang tanpa lelah harus dipaparkan, dsb.

Untuk hal di atas dapat disiapkan media penguatan nafsiyah dalam organisasi. Tetapi ingat, media ini tidak sebatas forum tausiyah tetapi harus dibarengi dengan lerning by doing dengan diterjunkan langsung bergerak ke lapangan. Karena kecenderungan bergerak juga ditentukan oleh pembiasaan bergerak. Pembiasaan ini dapat dilakukan dalam durasi 3 bulan dengan supervisi yang ketat. Insya Allah setelah itu kebiasaan baru bergerak pada anggota tim dakwah akan muncul.

Organisasi dakwah adalah organisasi non profit. Dalam organisasi model ini maka peran pemimpin memiliki posisi yang sangat strategis. Tim dakwah akan bergerak sangat ditentukan oleh peran yang optimal dari pemimpin tim.

Dalam hal ini ada 3 hal yang harus optimalk diperankan pemimpin tim dakwah :
1. Kepeloporan
2. Motivator
3. Supervisor

Kepeloporan adalah keberanian seorang pemimpin untuk memulai sesuatu, menggebrak kebekuan gerakan, membuat terobosan-terobosan baru yang berani, keteladanan yang jelas kepada anggota tim, ketegasan dan empati yang kuat, serta komitmen dan antusiasme bergerak yang lebih di banding anggota timnya.

Peran motivator dilakukan dengan mencoba seluruh trik memotivasi personal dan tim. Memotivasi adalah seni, sehingga pemimpin tim harus berani mencoba seluruh trik memotivasi sampai ditemukan pola yang jitu.

Peran supervisor penting sekali dilakukan karena sering point ini yang dilupakan seorang pemimpin tim dakwah. Supervisi adalah pekerjaan memonitor dan mengontrol secara ketat aktivitas pergerakan di lapangan, sekaligus memberikan solusi segera bila ada masalah.

Sedangkan dari aspek cara ditentukan oleh bagaimana kita mengelola pergerakan dakwah. Cara pengelolaan akan menentukan suasana pergerakan yang akhirnya akan mempengaruhi dinamika - bergeraknya - tim dakwah.

Tidak bergeraknya tim dakwah kadang ditentukan oleh problem cara pengelolaan pergerakan dakwah. Ketika cara-cara yang kita lakukan tak mampu membuat suasana pergerakan maka tim dakwah pun tidak ada gairah untuk bergerak.

Oleh karena itu berpikir cerdas dan bekerja keras terkait dengan cara-cara mengelola pergerakan akan menjadi solusi jitu bergeraknya anggota tim dakwah. Tidak boleh ada kata menyerah untuk mencari dan mencoba cara-cara pengelolaan dakwah sampai ditemukan pola yang mantap untuk menggerakkan seluruh anggota tim pada arah yang sama dan cepat.

Terkait aspek cara, antum dapat belajar dari cara pengelolaan Kongres Mahasiswa Islam Indonesia.

Solusi pada aspek personal anggota tim, aspek peran pemimpin tim dan cara-cara pengelolaan pergerakan dakwah harus dilakukan secara integral dan simultan. Apabila proses ini dapat antum lakukan, insya Allah problem tidak bergeraknya anggota tim dakwah dapat diselesaikan.

Wallahu’alam

Bagaimana Cara Membuat Konsep Dakwah Agar Dakwah Berkembang?

Pertanyaan :
Assalamualaikum, Mas!
Apa saja yang dipikirkan dalam mengonsep perkembangan dakwah??
Wassalam
H Q

Jawaban :
Wa’alaikum salam

Saudariku H Q, semoga Allah memuliakanmu melalui aktivitas dakwah yang antum lakukan.

Di awal tulisan ini, saya mencoba untuk memahami terlebih dahulu apa maksud pertanyaan. Saya perlu melakukan ini karena saya belum mengerti maksud penggalan kalimat pertanyaan “mengonsep perkembangan dakwah”. Ada beberapa kemungkinan maksud dari penggalan kalimat ini :
1. Membuat konsep agar dakwah berkembang, atau
2. Membuat konsep untuk mengetahui perkembangan dakwah, atau
3. Membuat konsep dakwah yang hebat agar dakwah berkembang

Berdasarkan kalimat pertanyaan itu, saya memperkirakan point 3 yang antum maksudkan. Jadi kemungkinan kalimat pertanyaan selengkapnya adalah “Bagaimana caranya membuat konsep dakwah yang hebat agar dakwah berkembang?” Saya akan menjawab berdasarkan maksud pertanyaan yang saya perkirakan.

Terkait hal ini saya akan memberikan rumus sederhana :

(T x KC x KK) > P = TDT

T : Tawakal
KC : Kerja Cerdas
KK : Kerja Keras
P : Penghalang
TDT : Target Dakwah Tercapai

Rumus diatas dapat dimaknai bahwa target dakwah insya Allah akan tercapai apabila kekuatan tawakal, kerja cerdas dan kerja keras lebih besar dari penghalang. Untuk sementara, secara sederhana kita pahami dulu saja bahwa tercapainya target dakwah sebagai indikator dakwah yang berkembang. Hal ini saya lakukan karena standard perkembangan dakwah kenyataannya menunjukkan sebuah stratifikasi.

Oleh karena itu agar dakwah berkembang maka lakukanlah trik sederhana berikut :

1. Tetapkan Target Dakwah
Target dakwah adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang akan dicapai dalam jangka waktu tertentu.Target dakwah setidaknya dapat dimengerti dari 4 aspek yaitu :
- Bertambahnya rekruitmen kader dakwah.
- Meningkatnya kapasitas kader dakwah.
- Meningkatnya pengaruh dakwah melalui opini publik.
- Bertambahnya jaringan dakwah.
Penetapan target dilakukan dengan menganalisis kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan tantangan). Apabila antum bergerak secara tim maka libatkanlah seluruh anggota tim untuk merumuskan target dakwah Untuk tahap awal, saran saya tetapkan target dengan jangka waktu pendek yaitu 90 hari agar mudah diukur keberhasilannya.

2. Kuatkan Tawakal
Tawakal adalah optimisme yang tinggi karena segala urusannya telah diwakilkan kepada Allah yang Maha Berkehendak. Merupakan kekuatan batin tanpa tanding yang akan menghilangkan unsur-unsur negatif dalam diri dan tim. Efek dari tawakal adalah muncul rasa optimis, percaya diri, berani, pikiran positif pada diri dan kematangan jiwa. Bagi orang yang bertawakal, apabila target tercapai maka akan bersyukur dan apabila target belum tercapai maka tidak akan berkeluh-kesah dan menyerah. Kekuatan ini akan muncul apabila hubungan kita dengan Allah kuat dan selalu berkomitmen untuk memberikan yang terbaik dan hanya yang terbaik.

3. Kerja Cerdas
Kerja cerdas adalah upaya serius mengerahkan seluruh kekuatan pikiran kita untuk merancang program-program agar target dakwah tercapai. Program-program yang kita buat harus dipastikan betul cocok dengan target yang telah ditetapkan. Dalam arti lain harus sesuai hukum sebab-akibat, program adalah sebab dan tercapainya target adalah akibat.

Rincilah program dalam cakupan bulanan, mingguan dan bahkan sampai harian. Program harus diperjelas bentuknya, targetnya, sarana dan prasarana yang diperlukan serta penanggung jawabnya. Antum juga harus memastikan pola monitoring dan evaluasi terhadap program yang dijalankan. Hal ini dapat dilakukan dengan sederhana yaitu mengevaluasi hasil yang tercapai dengan target yang direncanakan. Sejak dari awal juga harus diperjelas bahwa setiap program yang belum mencapai target harus diberikan rekomendasi perbaikan agar target akhir pada jangka waktu 90 hari tetap tercapai dengan optimal.

4. Kerja Keras
Kerja keras adalah upaya serius mengerahkan daya fisik untuk mengimplementasikan secara optimal rumusan konsep dakwah hasil kerja cerdas. Kerja keras ditentukan oleh komitmen, antusiasme, kedisiplinan, kesungguhan, keseriusan, kekuatan energi dan waktu. Apabila kita mampu terus menjaga faktor-faktor penentu kerja keras ini maka kita akan menemukan diri kita memiliki kesediaan menjalankan konsep dakwah seberat apapun.

Saya sering mendapat pertanyaan, “mengapa target dakwah di kampus saya tidak tercapai?” Jawabannya silakan diteliti point 1 – 4 di atas, dan lihatlah di point mana problemnya. Dalam pengamatan saya, point tawakal dan kerja keras yang paling lemah dalam aktivitas dakwah kampus yang berlangsung selama ini. Banyak konsep dakwah (hasil kerja cerdas) akhirnya menjadi tumpukan kertas karena tidak ada kesungguhan dan keseriusan untuk mengimplementasikannya. Oleh karena itu jangan pernah salahkan konsep dakwahnya, ketika kita belum mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk merealisasikannya di lapangan.

Selamat membuat konsep dakwah dan kerja keras untuk merealisasikannya.

Wallahu’alam

Filosofi Organisasi

Dalam hidup bermasyarakat, tentu setiap orang ingin mendapat tempat yang terhormat atau dihormati. Atau paling tidak, setiap orang ingin kehadirannya diterima di dalam masyarakat.

Untuk mendapat status seperti itu di masyarakat boleh dikata gampang-gampang susah. Tergantung cara kita menempatkan diri. Namun, pada intinya, setiap orang hanya perlu mengetahui apa kedudukan dan fungsi masing-masing di masyarakat. Kalau berupa pertanyaan maka bisa diajukan seperti ini “Sebagai Apa?” dan “Berperan Apa?”.



Masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang para anggota masyarakatnya memahami betul keudukan dan fungsi-fungsi masing-masing. Semua harus faham sebagai apa dan apa yang bisa atau tidak bisa dilakukan. Siapa yang bertugas sebagai aparat keamanan, pejabat pemerintah, tenaga pengajar, pedagang, pebisnis, ibu rumah tangga, warga masyarakat biasa, dll. Tidak boleh ada yang mengadili jika bukan tugasnya, tidak boleh ada member punishment jika bukan bagiannya. Tidak boleh tidak berbuat sesuatu pada bidang yang sudah merupakan tanggung jawabnya. Tidak boleh tidak melayani jika bertugas sebagai pejabat, dst.



Pemahaman seperti ini perlu diketahui secara tepat. Apabila sebagian besar masyarakat tidak memhami hal ini maka akan kacaulah sistem interaksi di masyarakat. Karena masing-masing bisa overlap dalam menjalankan peranannya di masyarakat.

Pengetahuan tentang kedudukan dan fungsi di masyarakat, itu bisa dipelajari secara teori. Tapi yang paling efektif adalah dengan menggabungkan diri dalam wadah-wadah organisasi. Karena organisasi merupakan miniature dari kehidupan masyarakat. Dalam organisasi bisa dipelajari secara praktis tentang bagaimana kita memahami kedudukan dan fungsi. Di dalam organisasi kita bisa mengenal berbagai macam karakter orang, baik internal organisasi maupun eksternal organisasi. Dengan mengetahui karakter berbagai macam orang, maka kita bisa mengetahui cara berinteraksi seperti apa dengan orang-orang yang berbeda karakteristik tersebut.

Maka, apabila seseorang telah memiliki pengalaman yang memadai dalam kehidupan berorganisasi, insyaallah ia juga akan memiliki kematangan dalam memerankan dirinya dalam kehidupan masyarakat.

Mari kita lihat realitasnya, bahwa siapapun yang lahir dan besar sebagai tokoh-tokoh terkemuka ternyata memiliki background organisasi. Dan selamanya tokoh-tokoh yang masyhur dalam sejarah selalu memiliki posisi sebagai pemimpin. Tidak mengherankan, karena ada beberap keuntungan jika seseorang berorganisasi:

1. Memiliki basis massa yang bisa mendongkrak popularitasnya

2. Terlatih untuk memiliki skill dalam mengelola SDM organisasinya dengan berbagai permasalahannya

Oleh karena itu, sekali lagi, siapapun yang ingin matang dalam kehidupan masyarakat, maka ia harus terlibat aktif dalam kegiatan berorganisasi. Bukan sekedar masuk dan terdaftar jadi anggota organisasi. Tapi melibatkan diri secara penuh dalam segala proses keorganisasian. Selanjtunya, siapapun yang dalam kehidupan masyarakat nyata ingin memiliki peran cukup sentral dalam perubahan ke arah Islam ideology, maka harus terlibat menggabungkan dirinya dalam organisasi-organisasi Islam ideologis.

Sebagai mahasiswa, pilihan untuk berorganisasi menjadi penting. Karena setelah lulus kuliah maka yang ditunggu oleh masyarakat bukanlah pengumuman tentang berapa jumlah IPK mahasiswa tersebut. Yang ditunggu oleh masyarakat bukanlah info tentang berapa lama ia menghabiskan masa perkuliahan. Masyarakat butuh yang real, apa yang bisa ia lakukan untuk masyarakat. Maka selama mahasiswa adalah penting bagi mahasiswa untuk terbiasa dengan seluk-beluk miniature kehidupan masyarakat, yakni organisasi, sehingga ia bisa menjawab tantangan ketika hidup secara nyata di masyarakat.

Dari uraian ini dapat kita fahami bahwa apabila ada satu atau lebih anggota masyarakat yang kita ketahui kurang optimal dalam menempatkan kedudukannya di masyarakat maka kita perlu mengajaknya bergabung dengan organisasi-organisasi yang ada. Dan apabila kita ingin mengoptimalkan peran masyarakat dalam Islam, maka sangat perlu kiranya kita mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam organisasi Islam. Apabila kita ingin semua mahasiswa memiliki peran aktif dalam memajukan Islam sebagai ideologi, maka ajaklah mereka semua bergabung dalam organisasi mahasiswa Islam ideologis.

Manajemen Kreativitas Dakwah Kampus

Yang paling sering dikhawatirkan muncul pada diri aktivis dakwah kampus diantaranya adalah masalah kejenuhan dan kejemuan. Walaupun sebetulnya secara normatif dan i’tiqadiy semua aktivis diharapkan bisa terus menjaga stabilitas semangat dan keistiqomahannya, namun acapkali masalah kejenuhan dan kejemuan masih selalu membayangi.

Di level top level management biasanya soal semangat dan agresivitas mungkin tidak terlalu diragukan lagi. Walaupun demikian tetap saja perlu diperhatikan. Namun yang sering perlu mendapat perhatian lebih adalah kalangan di middle level management dan juga low level management.

Kalangan top level management diasumsikan terdiri dari orang-orang yang relative stabil dalam urusan semangat. Maka kepada merekalah beban untuk membangun suasana agar aura semangat tetap terjaga di kalangan seluruh anggota teamnya. Stake holder organisasi perlu mencari berbagai macam cara agar grafik anggota organisasinya terus meningkat. Kalaupun tidak meningkat minimal bertahan dalam tempo tertentu untuk kemudian segera ditingkatkan lagi.

Hal mendasar yang perlu difahami guna menjaga semangat ini adalah bahwa dakwah adalah urusan agama. Sementara agama itu hubungannya dengan naluri beragama atau gharizah. Dan sebagaimana diketahui bersama bahwa setiap naluri atau gharizah selalu membutuhkan faktor eksternal diri manusia yang menstimulusnya untuk dapat menuntut adanya pemenuhan. Oleh karena itu, apabila ingin agar diri kita terjaga suasana keberagamaan dan selanjutnya ingin terjaga suasana dakwahnya maka harus selalu bisa memunculkan berbagai macam gagasan dan teknik kreatif yang bisa menstimulus hasrat untuk berdakwah.

Demikian juga apabila kita menghendaki agar orang-orang di sekitar kita, keluarga kita, teman kita, binaan kita, yunior kita, dan seluruh anggota ogranisasi kita, maka perlu sebanyak mungkin melahirkan cara-cara kreatif untuk menstimulus lahirnya gairah beragama dan gairah dakwah pada diri mereka.

Adapun secara khusus tentang masalah semangat ini dapat difahami seperti berikut: bahwa untuk mengatasi kejenuhan dan menghindari kejemuan adalah dengan cara menciptakan dinamika. Dan untuk menciptakan dinamika harus melahirkan kreativitas.

Ada 4 cara yang perlu selalu diperhatikan agar proses kreativitas terus berlangsung:
1- Selalu mengajukan pertanyaan “apa lagi yang harus saya lakukan?”, atau “apalagi yang mau kita lakukan?”. Syndrome yang sering menimpa aktivis dakwah kampus adalah ketika telah menyelenggarakan event tertentu apalagi yang berskala besar, maka merasa sudah cukup. Padahal tantangan dakwah di depan masih banyak PR-nya. Spirit dari pertanyaan seperti di atas adalah bahwa setiap aktivis dakwah selalu haus untuk terus berkarya.

2- Merancang kegiatan dengan prinsip harus beda dari sebelumnya atau tidak ingin melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Pola seperti ini akan membiasakan para aktivis dakwah untuk selalu memunculkan hal-hal baru.

3- Mudah mengambil inspirasi dari berbagai realitas, fenomena, dan karya orang lain yang sudah ada. Sebagai contoh film Superman, ini terinspirasi dari realitas manusia dan fenomena burung lalu kemudian muncul gagasan film yang menggambarkan manusia bisa terbang. Contoh lain, dari kebutuhan manusia akan jas hujan, tapi saat yang sama orang-orang ingin simple dalam mengenakannya selayaknya baju biasa, akhirnya muncullah ide membuat jas hujan berbentuk baju biasa. Demikian juga para aktivis dakwah, bisa mengadakan berbagai acara dengan berbagai model dengan mengambil inspirasi dari acara-acara di TV, Radio, dsb. Ketika membuat publikasi misalnya, bisa saja melihat berbagai model iklan yang ada di Koran, tv, dll.

4- Untuk hal-hal yang bersifat metodologi (thariiqah), atau yang sudah jelas-jelas hukumnya dalam Islam maka tidak boleh ada kreativitas di situ.

Inilah sekelumit tentang teknik membangun kreativitas. Bukan sembarang kreativitas, melainkan kreativitas yang dimaksudkan untuk mendinamisasi gerak dakwah dan diharapkan bisa menjaga aura semangat para aktivis dakwah kampus. Insya Allah apabila hal-hal di atas diterapkan akan sangat mengasyikkan, menjaga semangat, dan membangun suasana dinamis serta terjaganya semangat yang tak berkesudahan. Insya Allah

Merekahnya Bunga Cinta Sang Revolusioner

Para pejuang syari’ah dan khilafah saat ini berbesar hati lantaran aroma wangi Islam sudah merasuk kemana-mana.

Aroma wangi itu masuk kepesantren-pesantren, kampus-kampus, kantor-kantor, pertokoan, trotoar hingga gubuk kecil yang berada ditengah sawah. Aroma wangi itu semakin semerbak dan menjadi suatu kebutuhan lantaran angin yang dibawa iklim demokrasi selalu meniupkan bau yang tidak sedap. Dari waktu ke waktu, hari berganti, cuaca berubah namun iklim demokrasi yang oleh beberapa orang diharapkan membawa kesejukan semakin jauh panggang dari api. Demokrasi membawa kesejahteraan is absolutely no! demokrasi lebih dekat dengan nafsu angkara, tidak ada yang dibawanya kecuali penderitaan, penderitaan dan penderitaan.

Teriakan ringkih masyarakat, kami lapar, harga-harga naik, pendidikan naik, kesehatan naik, penguasa justru menjawabnya dengan kenaikan pajak! Wakil-wakil rakyat yang konon katanya penyambung lidah rakyat dan selalu berbicara atas nama rakyat menjawab tangisan rakyat dengan perkelahian sesama mereka setelah bosan berkelahi mereka tertawa-tawa sambil berkata “yang kita lakukan ini belum seberapa teman, liat parlemen China atau Korea yang kalau tidak puas saat sidang mereka sampai melempar-lempar kursi!” Begitulah kelakuan para wakil rakyat yang diangkat dan digaji oleh rakyat.

Cukuplah sudah penderitaan masyarakat dan dunia. Angin sejuk Islam yang membawa Aroma wangi khilafah akan segera menghapus penderitaan itu. Ucapkan selamat tinggal pada Demokrasi sistem lama yang sudah usang dan ucapkan selamat datang Khilafah sistem masa depan yang cerah. Pesona demokrasi semakin hari semakin memudar dan segera akan tenggelam; cahaya khilafah semakin hari semakin nampak laksana fajar menyingsing. Bukan saja di Indonesia tetapi juga diseluruh dunia.

Aroma wangi khilafah yang benihnya kembali disemai pemikir revolusioner abad ini Syeikh Taqiyuddin An Nabhani di bumi para Nabi tepatnya dimasjid tempat Rasulullah mi’raj. Kini sudah tumbuh kokoh berakar tunggang yang menghujam bumi dan berpucuk menjangkau langit, dahan-dahannya meraih semesta yang jauh. Secara perlahan namun pasti mengeluarkan sari mekar yang ditiup angin dan menebar aroma wangi kemana-mana. Sari mekar itu menjangkau daerah-daerah yang jauh. Dari Timur hingga Barat, dari Utara hingga Selatan.

Dari Palestina ke Barat menyeberang terusan Suez, berlabuh di negerinya nabi Yusuf. Merengsek kegurun Sahara dan menjangkau hampir semua daerah utara hingga ujung Afrika. Dari afrika menyeberang laut Mediterania; hinggap dibuminya orang-orang berkulit putih. Dari sini melebarkan sayap menyeberangi Samudera Atlantik sampai ke benua yang menjadi jantungnya Kapitalisme dunia.

Dari palestina ke utara melewati daerah bulan sabit, hingga menusuk jantung negeri yang pernah ditaklukkan Muhammad Al Fatih, yakni Turki. Dahulu lebih dikenal dengan nama OTTOMAN atau Khilafah Turki Utsmani. Cahaya terang Islam pernah memancar dari negeri ini. Dengan Islam Turki dahulu menjadi payung yang melindungi dan menjaga ketertiban dunia; dengan Islam Turki dahulu menjadi tempat orang-orang mangadukan nasib sulit yang menimpa; dengan Islam Turki dahulunya membuat orang-orang Eropa menggigil ketika berani berbuat onar; dengan Islam Turki menjadi penguasa dunia. Akan tetapi, setelah cahaya terang Islam mulai redup dan benar-benar di padamkan oleh tangan kotor Mustafa Kemal Attaturk –laknatullah- negeri itu tidak lagi punya harga diri. Penguasanya adalah boneka yang siap dimainkan tuannya yakni Amerika. Rakyat yang berseberangan haluan politik dengan penguasa dijamin tidak akan pernah melewati hari-hari dengan tenang. Posisi strategisnya sebagai penghubung Asia dan Eropa tidaklah berguna, di Asia dia tidak dihargai di Eropa dia tidak punya harga diri. Dan Alhamdulillah saat ini di negeri itu kembali terang cuaca, aroma wangi Islam kembali tercium. Negeri itu tengah bersiap-siap kembali ke haribaan Islam, menyongsong masa depannya yang gemilang dengan Khilafah.

Dari Palestina ke Timur, angin laut Mediterania bertiup kencang menyapu daerah-daerah yang pernah di taklukkan Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan. Angin yang membawa sari mekar Khilafah memberikan aroma wangi di negerinya Imam Bukhari, hingga melewati pegunungan Himalaya menghantam tembok besar China. Dari tembok besar China meliuk ke Selatan hingga meresap ke tanah Hindustan.

Bumi yang setia berputar diporosnya, mentari yang setia memancarkan cahaya, angin yang senantiasa bertiup akhirnya membuat aroma wangi Khilafah sampai juga di bumi Melayu. Menembus Nusantara hingga ke Australia.

Dalam perjalanan melewati daerah-daerah yang jauh itu Islam merasuk ke dalam jiwa dengan ras yang berbeda; meluruskan tradisi dengan berbagai coraknya; merekat manusia dengan Tuhannya. Disetiap tempat yang dilalui disana Islam tumbuh mekar laksana bunga dimusim semi. Sungguh indah dan menawan. Indahnya bunga itu membuat setiap mata yang melihat berbinar terang, tanganpun tidak sabar ingin meraihnya. Bunga yang tumbuh mekar tanpa pagar yang melindungi tentu saja mudah diraih sesuka hati. Ada yang meraih dengan kasar hingga mematahkan tangkai-tangkainya, bahkan tidak jarang tercerabut hingga akarnya. Ada juga yang meraih dengan lembut hingga terasa manfaatnya.

Begitulah, dibumi manapun Islam dapat tumbuh dengan baik, aroma wanginya dapat dirasakan indera penciuman yang sehat. Tetapi dibumi manapun tumbuhnya Islam tanpa ada pagar yang melindungi; tanpa penjaga yang mengawasi adalah membuat jiwa-jiwa kotor dengan mudah merampas dan mematahkan kembang anggunnya.

Saat ini, betapapun banyak tangan yang sudah mematahkan tangkai bunga yang menawan; betapapun banyak tangan yang akan mematahkan atau sekedar mengambil mekar sarinya; betapapun banyak makar jahil yang berencana mencabut bunga hingga akarnya; dengan izin Allah Subhanawata’la tidak akan membahayakan sedikitpun bunga yang ditanam Syeikh yang berasal dari bumi Jihad itu. Setiap upaya mematahkan tangkainya justru akan memperbanyak tunas-tunas yang baru. Setiap makar yang diarahkan padanya akan menjadi vitamin bagi pertumbuhannya. Hal ini karena bunga itu sudah terlanjur besar dan kuat, dahan-dahannya menilap semesta tempat banyak manusia berteduh mencari kesejukan, rindangnya yang nampak jauh menjadi penuntun diri dari sesat di jalan, batangnya yang berisi menjadi sandaran banyak manusia yang lelah menjalani hidup, aromanya yang wangi menjadi suatu kebutuhan di tengah kebusukan zaman sekarang. Segala hantaman, rintangan, cobaan tidak akan menggoyahkannya karena pijakan yang kokoh dan tanah berpijaknya adalah tanah yang paling subur di dunia. Keberadaannya adalah rahmat, insyaAllah akan berakhir dengan ridho Illahi!

Begitulah, bunga yang ditanam sang revolusioner dengan sepenuh cinta pada Illahi kini tumbuh mekar, merekah dan mewangi…………….

Jumat, 19 Maret 2010

Menegakkan Kembali Khilafah: Perkara Hidup Mati Bagi Umat Islam

Segala puji hanya milik Allah SWT Tuhan Semesta Alam, pemegang jiwa-jiwa manusia baik yang tunduk kepada-Nya maupun yang Ingkar kepada-Nya, dan semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa tunduk dan taat kepada-Nya yang dengannya Allah memuliakan dan meridloi setiap aktivitas kita. Dan mari kita senantiasa berjuang dan berdoa semoga diri kita tidak termasuk hamba-hamba-Nya yang ingkar kepada Allah SWT yang dengannya diri kita tersesat dalam kehidupan ini. Naudzubillah. Shalawat & Salam semoga senantiasa tercurah kepada Utusan dan Hamba-Nya yang paling mulia, Nabi Muhammad Saw beserta para keluarga, Shahabatnya, Tabi’in, tabi’it tabi’in dan pengikutnya yang Istiqomah memegang Islam hingga Allah memenangkan dien-Nya atau mereka gugur karenanya.

3 Maret 1924 M/ 28 Rajab 1342 H tepatnya 86 tahun yang lalu adalah masa yang menyedihkan bagi kaum muslimin. Betapa tidak, di masa itulah Umat Islam kehilangan suatu institusi negara yang menjadi perisai dan pelindung dari tangan-tangan keji Negara-negara Kafir dan kaum Munafik beserta para antek-anteknya. Sebagaimana sabda Rasulullah perihal salah satu peran Khalifah yang artinya:

”Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang dibelakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya”. (HR Muslim)

Lantas apa yang terjadi kini, sunggah sudah terlepas izzah, kehormatan, dan harga diri dari para penguasa-penguasa kaum muslim yang menjadikan diri mereka pelayan/agen/antek-antek penguasa Negara-negara Kafir. Mereka bukannya menjadi perisai dan pelindung Umat Islam dari Penjajahan negara-negara kafir akan tetapi mereka menjadi teman dekat (bithonah) dengan mempersilahkan Negara-negara Kafir tersebut mencengkram negeri-negeri kaum muslimin dan menjajahnya. Wahai para Penguasa Negeri-negeri muslim, sungguh ini adalah pengkhianatan yang besar terhadap kaum muslimin yang akan dipertanggungjawabkan dihadapan Mahkamah Allah SWT kelak!



Di masa itu pulalah kedaulatan tertinggi yang menjadi Hak Allah SWT dihapus dan diinjak-injak kemudian diganti dengan ide-ide kufur buatan manusia. Padahal Allah berfirman yang artinya:

”Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik". (TQS. Al An’am : 57)

Namun apa yang dilakukan oleh para penguasa-penguasa negeri-negeri muslim. Dengan angkuhnya mereka meninggalkan hukum-hukum Allah, mencampakkannya, menjual dengan harga murah serta mendustakan ayat-ayat Allah seraya menuruti perkataan, kebijakan, arahan serta framework Negara-negara Kafir. Padahal Negara-negara Kafir tersebut menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (TQS. An Nisaa’ : 60)

Dan apa kesudahan dari orang-orang yang durhaka dan mendustakan ayat-ayat Allah, tidak lain adalah kesempitan hidup(lihat QS. Thaha: 124), kerusakan(lihat QS. Ar Rum : 41) bahkan adzab yang pedih dari Allah SWT(lihat Al Isra : 58). Naudzubillah.

Itulah akibat dari runtuhnya Negara Khilafah Islamiyah? kezhaliman, kemiskinan & keterpurukan, ketidakadilan! Namun, mengapa kita tidak memahami bahwa relevansi kondisi saat ini adalah akibat dari dampak dihancurkannya Khilafah dan diceraiberaikannya umat Islam oleh antek Negara Kafir Mustafa Kamal Attaturk-laknatullah alayhi-. Lantas apa yang kini tengah diperjuangkan oleh orang-orang (Islam) yang berkerjasama dengan menegakkan demokrasi, HAM, Pluralisme, Kapitalisme? Apakah mereka tidak berpikir bahwa ide-ide kufur tersebut adalah jebakan dari Negara-negara Kafir atas negeri-negeri Muslim?. Lalu muncul umat yang ragu-ragu akan kebangkitan Islam dengan tegaknya Khilafah dikarenakan begitu banyak permasalahan yang menimpa umat Islam. Mereka mengatakan Khilafah utopis, hanya sekedar romantisme sejarah belaka. Apakah mental-mental seperti ini yang dahulu ditanamkan oleh Rasulullah Saw dan para Shahabat ketika memperjuangkan risalah yang mulia ini! Tidak Saudaraku! Sungguh tidak ada keraguan sedikit pun dihati kita terhadap janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah Saw akan bangkitnya Islam. Karenanya, Kita dan Islam akan selalu bersatu hingga Allah memenangkan dien-Nya atau kita gugur karenanya.

Sungguh Rasulullah Saw. dan para Shahabat ra telah menjadikan perkara ini sebagai perkara hidup dan mati. Perkara yang tidak ada penawaran yang lain, selain tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Perkara yang dengannya tegak perkara-perkara lain yang akan memberikan kesejahteraan, mengganti kondisi umat Islam yang tadinya diliputi ketakutan, kezhaliman menjadi damai sentausa dan penuh rahmat. Itulah Khilafah. Dan Khilafahlah -yang dengannya kepemimpinan dan kesatuan atas umat Islam akan terwujud, hukum-hukum Allah akan ditegakkan, Kemuliaan Islam dan Umatnya akan terwujud- sungguh merupakan perkara hidup dan mati yang harus diperjuangkan dan ditegakkan segera oleh seluruh Umat Islam. Wallahu A’lam.

BUKTI TRANSAKSI ANTARA TUHAN - HAMBA

BUKTI TRANSAKSI ANTARA TUHAN - HAMBA
Dengan atau tanpa kita, Dakwah Islam akan tetap berjalan, namun apakah Neraka-Nya tidak terlalu menakutkan serta Surga-Nya tidak begitu menggiurkan untuk kita semua?